Jakarta (pdpab.mui.or.id) — Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa (PDPAB) MUI menggelar Training Penguatan Akhlak Bangsa bagi Milenial Angkatan ke-6 pada Sabtu (30/08/2024) di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat Jakarta. Kegiatan ini bertepatan dengan bulan Ramadhan sehingga suasana pembinaan akhlak semakin kontekstual dan reflektif.
Ketua PDPAB MUI, Dr. KH. Masyhuril Khamis, SH., MM., dalam sambutannya menegaskan bahwa penguatan akhlak merupakan proses yang tidak boleh berhenti pada retorika seremonial. Ia menyampaikan bahwa generasi muda membutuhkan pembinaan karakter yang berakar pada nilai-nilai agama sekaligus relevan dengan dinamika sosial hari ini. Ia menekankan pentingnya “membiasakan kebaikan”, bukan sekadar “mengetahui kebaikan”.
Selanjutnya, Sekretaris Jenderal MUI, Dr. H. Amirsyah Tambunan, memberikan perspektif strategis terkait pentingnya pembinaan moral dalam pembangunan peradaban bangsa. Ia menyampaikan bahwa Indonesia membutuhkan generasi yang bukan hanya cerdas intelektual, tetapi juga cerdas spiritual dan sosial. Ia menyerukan agar akhlak menjadi dasar dalam tindakan, pilihan hidup, dan interaksi sosial para milenial.
Dalam sambutan berikutnya, Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH. M. Cholil Nafis, Lc., MA., Ph.D., menggarisbawahi tantangan akhlak di era digital, termasuk bahaya ujaran kebencian, pembunuhan karakter di media sosial, dan penyimpangan etika komunikasi daring. Ia mengajak para peserta untuk menjadi teladan akhlak dalam ruang publik, bukan sekadar konsumen informasi pasif.
Training ini kembali mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang mahasiswa, pelajar, pegiat dakwah, komunitas sosial, dan pemuda profesional yang hadir dengan semangat untuk memperkuat fondasi moral dalam kehidupan pribadi dan sosial. Suasana Ramadhan memperdalam makna kegiatan, menjadikan pembinaan akhlak sebagai bagian dari penyucian jiwa dan pembentukan karakter.
Pelaksanaan Angkatan ke-6 ini meneguhkan kesinambungan program PDPAB dalam mencetak generasi yang berakhlak mulia, berintegritas, serta siap menjadi wajah peradaban moral bangsa. Program ini menjadi ruang belajar bersama agar akhlak tidak berhenti sebagai konsep, tetapi menjadi praktik hidup yang membentuk manusia dan masyarakat.
Oleh: Slamet Miftahul Abror

