Jakarta (pdpab.mui.or.id) — Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa Majelis Ulama Indonesia (PDPAB MUI) kembali menggelar Training Akhlak Bangsa bagi Milenial Angkatan ke-2, edisi spesial Ramadan 1444 H. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 15 April 2023 / 24 Ramadan 1444 H, bertempat di Aula Buya Hamka, Lantai IV Kantor MUI Pusat, Jakarta. Program ini menjadi bagian dari ikhtiar dakwah strategis MUI untuk memperkuat karakter kebangsaan dan moral generasi muda di tengah dinamika sosial-era digital.
Pelatihan ini diikuti oleh para milenial dari berbagai latar belakang pendidikan dan komunitas, dengan semangat membangun pemahaman moral dan etika publik yang sejalan dengan nilai keislaman serta komitmen kebangsaan. Agenda kegiatan dibuka dengan sesi registrasi peserta pada pukul 12.00–13.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan sesi sambutan dan arahan pimpinan MUI.
Sambutan utama disampaikan oleh Ketua PDPAB MUI, Dr. KH. Masyhuril Khaamis, SH., MM. Ia menekankan bahwa tantangan terbesar bangsa hari ini bukan hanya persoalan ekonomi dan teknologi, tetapi membangun manusia yang berkarakter dan berakhlak. Menurutnya, akhlak yang kokoh bukan sekadar teori moral, melainkan fondasi kehidupan bermasyarakat, kemampuan menjaga integritas, dan kesanggupan menjadi teladan.
Dalam nada pesan yang kuat, ia menyampaikan bahwa akhlak generasi muda harus dibangun agar memiliki keberanian moral untuk menolak perilaku negatif, budaya celaan, hasutan kebencian, dan bias informasi di media sosial. Ia mengajak para peserta untuk kembali pada spirit akhlak Rasulullah: jujur, adil, sabar, mengayomi, dan mampu berkomunikasi secara bijaksana dalam ruang publik.
Berikutnya, arahan disampaikan oleh Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH. M. Cholil Nafis, Lc., MA., Ph.D. Dalam arahannya ia menegaskan bahwa dakwah masa kini bukan sekadar menyampaikan ayat dan hadis, tetapi mentransformasikan keduanya menjadi praktik sosial yang hidup dan kontekstual. Ia mendorong agar generasi muda menjadi agen perubahan, yang bukan hanya tahu ajaran, tetapi menjadi contoh akhlak dalam tindakan sehari-hari.
Menurutnya, bangsa yang kuat dibangun bukan hanya dari kecerdasan intelektual, tetapi oleh budi pekerti yang berakar pada iman dan rasa tanggung jawab kebangsaan. Ia menekankan bahwa akhlak publik seperti disiplin, kesantunan, penghormatan pada perbedaan, dan kepedulian sosial merupakan bagian penting dari dakwah Islam rahmatan lil ‘alamin.
Melalui Training Akhlak Bangsa Angkatan ke-2 ini, PDPAB MUI mengharapkan hadirnya generasi yang tidak hanya cakap dalam berpikir, tetapi juga matang secara moral dan matang dalam menyikapi realitas kehidupan modern. Kegiatan ini menjadi bukti komitmen MUI dalam memfasilitasi pembinaan akhlak sosial khususnya bagi kalangan muda sebagai investasi peradaban jangka panjang.
Jika Anda memiliki data tambahan terkait narasumber lain, rangkaian sesi materi, atau kutipan langsung dari tokoh, sampaikan nanti akan saya integrasikan agar berita ini semakin kuat secara editorial, ritme narasi, dan otoritas isinya.
Oleh: Slamet Miftahul Abror

