Jakarta (pdpab.mui.or.id) — Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa (PDPAB) Majelis Ulama Indonesia kembali menyelenggarakan Training Penguatan Akhlak Bangsa bagi Milenial Angkatan ke-3 pada Minggu (10/9/2023) di Aula Buya Hamka, Lantai IV Kantor MUI Pusat, Jakarta. Kegiatan ini menjadi kelanjutan dari program pembinaan akhlak yang telah dirintis sejak beberapa tahun terakhir, yang menyasar generasi muda sebagai pondasi moral bangsa.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua PDPAB MUI, Dr. KH. Masyhuril Khamis, SH., MM., menyampaikan bahwa penguatan akhlak bagi kelompok milenial merupakan kebutuhan mendesak di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks. Menurutnya, tantangan moral generasi saat ini tidak lagi sekadar persoalan etika personal, tetapi sudah mengarah pada pembentukan karakter dalam kehidupan sosial, digital, dan interaksi publik.
“Akhlak itu bukan sekadar teori, tetapi harus hidup dalam keseharian. Kita ingin melahirkan generasi muda yang percaya diri, berakhlak, dan mampu membawa nilai-nilai moral di tengah derasnya arus informasi dan perubahan zaman,” ujarnya.
KH. Masyhuril menekankan bahwa pelatihan ini bukan sebatas penyampaian materi, melainkan pembentukan pola pikir dan pembiasaan adab dalam berkomunikasi, bermedia sosial, berorganisasi, dan berperan dalam masyarakat. Ia mengajak para peserta untuk tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi penggerak perubahan akhlak di lingkungannya masing-masing.
Sementara itu, Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH. M. Cholil Nafis, Lc., MA., Ph.D., yang turut memberikan sambutan, menegaskan bahwa akhlak adalah ruh dari agama dan inti dari dakwah Islam. Ia mengingatkan bahwa kehormatan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh banyaknya sumber daya atau kemajuan teknologinya saja, tetapi oleh kualitas moral penduduknya.
“Islam itu hadir untuk membangun peradaban melalui akhlak. Kalau generasi mudanya kuat secara akhlak, maka masyarakatnya akan kuat dan bangsa ini akan berdiri tegak dengan martabat,” jelasnya.
KH. Cholil juga menyoroti bagaimana media sosial dan budaya digital memberi dampak besar pada pembentukan karakter generasi muda. Ia mengajak peserta memahami perbedaan antara kebebasan berpendapat dengan etika berbicara, serta pentingnya menjaga adab dalam ranah digital.
Kegiatan ini resmi dibuka oleh Sekretaris Jenderal MUI, Dr. H. Amirsyah Tambunan, M.A. Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa MUI memiliki perhatian serius terhadap pembinaan generasi muda sebagai aset masa depan bangsa. Ia mengajak seluruh peserta menjadi agen perbaikan moral yang mampu membawa nilai-nilai kebaikan di berbagai sektor kehidupan.
“Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga beradab dan berkomitmen pada nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin. Itu inti dari perjuangan akhlak bangsa,” katanya.
Training ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang mahasiswa, aktivis komunitas, pemuda masjid, hingga pegiat dakwah online yang menunjukkan komitmen PDPAB untuk menjangkau target binaan secara luas dan inklusif.
Melalui penyelenggaraan angkatan ketiga ini, PDPAB MUI menegaskan kelanjutan agenda strategis dalam memperkuat moral generasi, membangun budaya akhlak dalam ruang publik, dan memastikan bahwa nilai-nilai keislaman tetap menjadi panduan etis dalam kehidupan bermasyarakat.
Oleh: Slamet Miftahul Abror

