Jakarta (pdpab.mui.or.id) — Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa (PDPAB) MUI kembali menyelenggarakan Training Penguatan Akhlak Bangsa bagi Milenial Angkatan ke-7 pada Sabtu (28/09/2024) bertempat di Aula Lt. 2 Gedung Dewan Syariah Nasional MUI. Kehadiran generasi muda dari beragam latar belakang menunjukkan antusiasme yang konsisten dalam memperkuat pondasi moral dan etika sosial.
Ketua PDPAB MUI, Dr. KH. Masyhuril Khamis, SH., MM., dalam sambutannya menyampaikan urgensi penanaman akhlak mulia di tengah tantangan modernitas dan arus budaya global. Ia menekankan bahwa pembinaan akhlak bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan pembentukan karakter melalui keteladanan, kesadaran diri, dan konsistensi dalam perilaku. Ia menyerukan agar generasi muda berani tampil sebagai subjek perubahan, bukan hanya objek pengaruh budaya digital.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal MUI, Dr. H. Amirsyah Tambunan, M.Ag., memberikan arahan yang menegaskan bahwa akhlak merupakan infrastruktur utama dalam menjaga keutuhan bangsa. Ia menilai bahwa persoalan degradasi moral mulai dari krisis kejujuran, lemahnya disiplin, hingga terbiasanya ujaran negatif di ruang virtual memerlukan solusi berbasis nilai agama dan komitmen praksis. Ia mendorong agar pembinaan akhlak dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan keluarga, institusi pendidikan, dan komunitas sosial-keagamaan.
Training ini menjadi ruang aktualisasi nilai Akhlaqul Karimah dan pembelajaran reflektif tentang bagaimana akhlak diterapkan dalam kehidupan nyata. Para peserta diajak memahami bahwa tantangan akhlak hari ini bukan hanya persoalan personal, tetapi juga berdampak pada reputasi sosial, kualitas interaksi publik, serta arah pembangunan moral bangsa.
Pelaksanaan Angkatan ke-7 ini semakin menegaskan keberlanjutan komitmen PDPAB MUI dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, bermartabat, dan memiliki tanggung jawab moral terhadap kemajuan bangsa. Program ini terus menjadi wadah pembinaan akhlak yang hidup, relevan, dan menyentuh realitas keseharian anak muda Indonesia.
Oleh: Slamet Miftahul Abror

