Jakarta (pdpab.mui.or.id) — Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa (PDPAB) MUI kembali menyelenggarakan Training Penguatan Akhlak Bangsa bagi Milenial Angkatan ke-12 pada Sabtu (31/05/2025) di Aula Buya Hamka, Gedung MUI Pusat. Kegiatan ini menjadi lanjutan berkesinambungan dari program pembinaan moral generasi muda yang digelar PDPAB MUI sepanjang beberapa periode terakhir.
Ketua PDPAB MUI, Dr. KH. Masyhuril Khamis, MM., dalam sambutannya menegaskan bahwa degradasi akhlak bukan hanya isu keagamaan, melainkan masalah peradaban. Menurutnya, bangsa yang kehilangan pijakan moral akan kehilangan arah dalam kebijakan, kepemimpinan, dan kemajuan sosial. Ia menyampaikan bahwa MUI melalui PDPAB berkomitmen bukan sekadar memberi nasihat, tetapi juga menciptakan ruang pembelajaran akhlak yang aplikatif dan membentuk kebiasaan moral yang konsisten.
Dewan Pimpinan MUI Ketua, KH. Muhammad Cholil Nafis, M.A., Ph.D., menambahkan bahwa akhlak adalah fondasi kesalehan publik. Ia menyoroti fenomena digital yang membuat persebaran ujaran kebencian, fitnah, narsisme virtual, dan budaya instan semakin masif. Dalam konteks ini, generasi milenial bukan hanya dituntut menghindari perilaku destruktif, tetapi juga menjadi agen perbaikan budaya di dunia maya. Akhlak, menurutnya, bukan retorika spiritual, melainkan disiplin mental yang membentuk integritas dalam bertindak.
Sementara itu, keynote speaker sekaligus Sekretaris Jenderal MUI, Dr. H. Amirsyah Tambunan, M.Ag., menegaskan bahwa akhlak bangsa tidak boleh bergantung pada pendidikan formal saja. Ia menyoroti pentingnya peran keluarga, komunitas, dan institusi dakwah dalam membentuk kepribadian bermoral. Amirsyah menyampaikan bahwa negara yang besar bukan hanya diukur dari teknologi dan ekonomi, melainkan dari kualitas manusianya. Dalam pandangannya, bangsa yang berakhlak adalah bangsa yang kuat, beradab, dan berkelanjutan.
Program Angkatan ke-12 ini diikuti oleh peserta dari berbagai daerah dan latar belakang, menunjukkan adanya kesadaran publik yang semakin meningkat akan kebutuhan pendidikan moral yang substantif dan relevan. Training ini bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi proses internalisasi nilai, pembiasaan sikap, dan pembentukan karakter.
Penutup kegiatan menjadi momentum refleksi bersama: bahwa perjuangan akhlak bukan tugas sesaat, namun perjalanan panjang yang menuntut keteladanan, kontinuitas, dan keberanian untuk berbeda di tengah arus budaya negatif. Dengan pelaksanaan rutin yang semakin terstruktur, PDPAB MUI diharapkan terus menjadi garda terdepan dalam pembinaan moral publik.
Oleh: Slamet Miftahul Abror

